Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Minggu, 10 September 2017
Ketoprak
Ketoprak merupakan jenis pertunjukkan rakyat yang memiliki gabungan unsur tari, suara, dan sastra. Pada mulanya cerita diambil dari kehidupan para petani dengan maksud untuk memajukan pertanian, cerita lainnya berlatar belakang sejarah.
Seiring berkembangnya jaman, budaya-budaya tradisional harus dapat berkompromi dan beradaptasi dengan jaman sekarang agar mereka bisa bertahan. Modernisasi ini bertujuan agar budaya tradisional Indonesia tidak punah. Beberapa tayangan di televisi yang berhasil mempertahankan budaya ketoprak adalah Ketoprak Humor, Ketoprak Canda, Ketoprak Jampi Stres dan Ketoprak Plesetan. Tayangan-tayangan televisi di atas telah dimodifikasi sedemikian sehingga mereka dapat beradaptasi dengan jaman sekarang, tetapi tidak kehilangan esensi mereka sebagai kebudayaan tradisional.
Menurut data Survey Research Indonesia, salah satu lembaga pemeringkat acara televisi, akhir Juni 2000, rating (peringkat) Ketoprak Canda 5. Artinya, acara itu ditonton oleh 5% dari sejumlah pemirsa di beberapa kota yang disurvai. Sementara Ketoprak Humor mengumpulkan rating 9. Dari angka-angka di atas, dapat kita lihat bahwa modernisasi ketoprak di Indonesia cukup berhasil. Kalian bisa menyaksikan pertunjukkan ketoprak pada acara tasyukuran. Silahkan mampir ke sanggar-sanggar seni di Gunung Kidul. Dijamin terhibur dan tidak bikin ngantuk.
Wayang Kulit
Wayang kulit merupakan salah satu kesenian tradisi yang tumbuh dan berkembang di masyarakat Jawa. Lebih dari sekadar pertunjukan, wayang kulit dahulu digunakan sebagai media untuk permenungan menuju roh spiritual para dewa. Konon, “wayang” berasal dari kata “ma Hyang”, yang berarti menuju spiritualitas sang kuasa. Tapi, ada juga masyarakat yang mengatakan “wayang” berasal dari tehnik pertunjukan yang mengandalkan bayangan (bayang/wayang) di layar.
Wayang kulit dimainkan langsung oleh narator yang disebut dalang. Sambil memainkan wayang, sang dalang diiringi musik yang bersumber dari alat musik gamelan. Di sela-sela suara gamelan, dilantunkan syair-syair berbahasa Jawa yang dinyanyikan oleh para pesinden yang umumnya adalah perempuan.
Wayang kulit merupakan kekayaan nusantara yang lahir dari
budaya asli masyarakat Indonesia yang mencintai kesenian. Setiap bagian
dalam pementasan wayang mempunyai simbol dan makna filosofis yang kuat.
Apalagi dari segi isi, cerita pewayangan selalu mengajarkan budi pekerti
yang luhur, saling mencintai dan menghormati, sambil terkadang
diselipkan kritik sosial dan peran lucu lewat adegan goro-goro. Tidak
salah jika UNESCO mengakuinya sebagai warisan kekayaan budaya Indonesia
yang bernilai adiluhung
Biasanya umat Hindu Gunung Kidul menggelar wayang kulit untuk melaksanakan kegiatan simakrama. Simakrama keagamaan Hindu merupakan kegiatan untuk melakukan pertemuan antar sesama demi keakraban dengan rasa kekeluargaan dan penuh kedamaian. Kegiatan ini dilaksanakan sebulan setelah umat Hindu disibukkan dengan kegiatan keagamaan dalam perayaan Hari Raya Nyepi. Silahkan berkunjung ke Gunung Kidul jika ingin menyaksikan ramainya pamentasan wayang kulit..
Jumat, 08 September 2017
Jathilan
Jathilan merupakan kesenian yang menyatukan antara unsur gerakan tari dengan magis. Kesenian yang juga sering disebut dengan nama jaran kepang atau jaran dor ini dapat dijumpai di desa-desa di Jawa, tak hanya di Jogja. Pagelaran ini dimulai dengan tari-tarian. Kemudian para penari bak kerasukan roh halus sehingga hampir tidak sadar dengan apa yang mereka lakukan.
Di saat para penari bergerak mengikuti irama musik dari jenis
alat musik jenis alat gamelan seperti saron, kendang, dan gong ini,
terdapat pemain lain yang mengawasi dengan memegang pecut atau cemeti. Pemain yang bertugas mengawasi itu adalah yang terpenting dalam
jathilan ini. Dia adalah dukunnya dan dia "mengendalikan" roh halus yang
merasuki para penari. Para penari umumnya menggunakan kuda kepang
– bambu yang dianyam menyerupai kuda.
Para penari ini juga melakukan atraksi-atraksi berbahaya yang tak dapat
dinalar oleh akal sehat. Diantaranya adalah mereka dapat dengan mudah
memakan benda-benda tajam sperti silet, pecahan kaca, atau bahkan lampu
tanpa terluka atau merasakan sakit. Dan ketika mereka di pecuti dengan
cambuk atau cemeti pun tubuh mereka tidak memar atau tergores.
Sesuai perkembangan jaman, sejatinya ada banyak cerita yang
dikembangkan dan sering ditampilkan pada pertunjukan seni tari jathilan
pun jaran kepang ini.
Tarian Janggrung
Tarian Janggrung merupakan jenis kesenian yang disakralkan dalam setiap pelaksanaan acara bersih desa setiap tahunnya. Kesenian ini selalu dipentaskan di tempat yang dikeramatkan, yakni di bawah pohon asem dan kepoh yang berada di Dusun Munggi, Desa Munggi, Kecamatan Semanu, Gunung Kidul.
Menurut kepercayaan masyarakat setempat tarian Janggrung dipercaya dapat digunakan sebagai perantaraan penyembuhan berbagai macam penyakit. Oleh seorang penari, orang yang terserang penyakit dimintakan kepada yang mbau rekso (penguasa gaib) yang punya tempat untuk diberikan kesembuhan. Oleh seorang penari, orang yang sakit diajak menari dengan diiringi musik gamelan dan selanjutnya dicium dan diusap mukanya dengan mengguknakan selendang sang penari.
Selain tarian janggrung, ditempat yang dikeramatkan tersebut seorang Juru kunci membacakan mantra-mantra sambil membakar kemenyan. Selain meminta penyembuhan, terlihat banyak pengunjung yang masih mempercayai jika tempat keramat tersebut dapat mendatangkan berkah. Atmo Suwito menjelaskan tak sedikit warga sekitar maupun dari daerah lain yang datang untuk didoakan agar mendapatkan berkah,kemurahan rejeki maupun jodoh.
Langganan:
Postingan (Atom)









