Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 September 2017

Rasulan

   Rasulan adalah tradisi yang telah lama diselenggarakan oleh masyarakat Gunung Kidul oleh petani setelah masa panen tiba. Acara yang umunya dilaksanakan pada bulan Juni dan Juli ini biasanya berlangsung beberapa hari yang diawali dengan bersih desa. Puncak keramaian biasanya akan terjadi pada saat kegiatan kirab. Setelah kirab kemudian dilanjutkan dengan doa bersama. Lalu dilanjutkan dengan perebutan tumpeng.

 

   Tradisi rasulan merupakan aset budaya yang harus terus dipertahankan, karena dengan jiwa kebersamaan dan juga semangat gotong-royong, maka keharmonisan masyarakat bisa terwujud. Selain sebagai sarana dalam memupuk semangat kekeluargaan, tradisi ini juga menjadi salah satu wadah didalam melestarikan kesenian daerah Gunungkidul.

 

   Kegiatan rasulan dilaksanakan pada hari jum'at legi (pasaran Jawa) yang mana kegiatannya berada dijalan-jalan, balai dea, dan tempat yang keramat menurut warga. Bagi kalian yang ingin menyaksikan rasulan, bisa mengunjuni desa Wiladeg yang berada sekitar 5 km darinkota Wonosari kearah timur laut yaitu pada jalan Wonosari-Semin.

Ketoprak

     Ketoprak merupakan jenis pertunjukkan rakyat yang memiliki gabungan unsur tari, suara, dan sastra. Pada mulanya cerita diambil dari kehidupan para petani dengan maksud untuk memajukan pertanian, cerita lainnya berlatar belakang sejarah.



     Seiring berkembangnya jaman, budaya-budaya tradisional harus dapat berkompromi dan beradaptasi dengan jaman sekarang agar mereka bisa bertahan.  Modernisasi ini bertujuan agar budaya tradisional Indonesia tidak punah. Beberapa tayangan di televisi yang berhasil mempertahankan budaya ketoprak adalah Ketoprak Humor, Ketoprak Canda, Ketoprak Jampi Stres dan Ketoprak Plesetan. Tayangan-tayangan televisi di atas telah dimodifikasi sedemikian sehingga mereka dapat beradaptasi dengan jaman sekarang, tetapi tidak kehilangan esensi mereka sebagai kebudayaan tradisional. 

    Menurut data Survey Research Indonesia, salah satu lembaga pemeringkat acara televisi, akhir Juni 2000, rating (peringkat) Ketoprak Canda 5. Artinya, acara itu ditonton oleh 5% dari sejumlah pemirsa di beberapa kota yang disurvai. Sementara Ketoprak Humor mengumpulkan rating 9. Dari angka-angka di atas, dapat kita lihat bahwa modernisasi ketoprak di Indonesia cukup berhasil. Kalian bisa menyaksikan pertunjukkan ketoprak pada acara tasyukuran. Silahkan mampir ke sanggar-sanggar seni di Gunung Kidul. Dijamin terhibur dan tidak bikin ngantuk.

Wayang Kulit


     Wayang kulit merupakan salah satu kesenian tradisi yang tumbuh dan berkembang di masyarakat Jawa. Lebih dari sekadar pertunjukan, wayang kulit dahulu digunakan sebagai media untuk permenungan menuju roh spiritual para dewa. Konon, “wayang” berasal dari kata “ma Hyang”, yang berarti menuju spiritualitas sang kuasa. Tapi, ada juga masyarakat yang mengatakan “wayang” berasal dari tehnik pertunjukan yang mengandalkan bayangan (bayang/wayang) di layar.

     Wayang kulit dimainkan langsung oleh narator yang disebut dalang. Sambil memainkan wayang, sang dalang diiringi musik yang bersumber dari alat musik gamelan. Di sela-sela suara gamelan, dilantunkan syair-syair berbahasa Jawa yang dinyanyikan oleh para pesinden yang umumnya adalah perempuan.


     Wayang kulit merupakan kekayaan nusantara yang lahir dari budaya asli masyarakat Indonesia yang mencintai kesenian. Setiap bagian dalam pementasan wayang mempunyai simbol dan makna filosofis yang kuat. Apalagi dari segi isi, cerita pewayangan selalu mengajarkan budi pekerti yang luhur, saling mencintai dan menghormati, sambil terkadang diselipkan kritik sosial dan peran lucu lewat adegan goro-goro. Tidak salah jika UNESCO mengakuinya sebagai warisan kekayaan budaya Indonesia yang bernilai adiluhung


     Biasanya umat Hindu Gunung Kidul menggelar wayang kulit untuk melaksanakan kegiatan simakrama. Simakrama keagamaan Hindu merupakan kegiatan  untuk melakukan pertemuan antar sesama demi  keakraban dengan rasa kekeluargaan  dan penuh kedamaian. Kegiatan ini dilaksanakan sebulan setelah umat Hindu disibukkan dengan kegiatan keagamaan dalam perayaan Hari Raya Nyepi. Silahkan berkunjung ke Gunung Kidul jika ingin menyaksikan ramainya pamentasan wayang kulit..





Jumat, 08 September 2017

Jathilan


     Jathilan merupakan kesenian yang menyatukan antara unsur gerakan tari dengan magis. Kesenian yang juga sering disebut dengan nama jaran kepang atau jaran dor ini dapat dijumpai di desa-desa di Jawa, tak hanya di Jogja. Pagelaran ini dimulai dengan tari-tarian. Kemudian para penari bak kerasukan roh halus sehingga hampir tidak sadar dengan apa yang mereka lakukan. 

     Di saat para penari bergerak mengikuti irama musik dari jenis alat musik jenis alat gamelan seperti saron, kendang, dan gong ini, terdapat pemain lain yang mengawasi dengan memegang pecut atau cemeti. Pemain yang bertugas mengawasi itu adalah yang terpenting dalam jathilan ini. Dia adalah dukunnya dan dia "mengendalikan" roh halus yang merasuki para penari. Para penari umumnya menggunakan kuda kepang – bambu yang dianyam menyerupai kuda.

     Para penari ini juga melakukan atraksi-atraksi berbahaya yang tak dapat dinalar oleh akal sehat. Diantaranya adalah mereka dapat dengan mudah memakan benda-benda tajam sperti silet, pecahan kaca, atau bahkan lampu tanpa terluka atau merasakan sakit. Dan ketika mereka di pecuti dengan cambuk atau cemeti pun tubuh mereka tidak memar atau tergores.
     Sesuai perkembangan jaman, sejatinya ada banyak cerita yang dikembangkan dan sering ditampilkan pada pertunjukan seni tari jathilan pun jaran kepang ini.

Tarian Janggrung

     Tarian Janggrung merupakan jenis kesenian yang disakralkan dalam setiap pelaksanaan acara bersih desa setiap tahunnya. Kesenian ini selalu dipentaskan di tempat yang dikeramatkan, yakni di bawah pohon asem dan kepoh yang berada di Dusun Munggi, Desa Munggi, Kecamatan Semanu, Gunung Kidul. 



     Menurut kepercayaan masyarakat setempat tarian Janggrung dipercaya dapat digunakan sebagai perantaraan penyembuhan berbagai macam penyakit. Oleh seorang penari, orang yang terserang penyakit dimintakan kepada yang mbau rekso (penguasa gaib) yang punya tempat untuk diberikan kesembuhan. Oleh seorang penari, orang yang sakit diajak menari dengan diiringi musik gamelan dan selanjutnya dicium dan diusap mukanya dengan mengguknakan selendang sang penari. 




      Selain tarian janggrung, ditempat yang dikeramatkan tersebut seorang Juru kunci membacakan mantra-mantra sambil membakar kemenyan. Selain meminta penyembuhan, terlihat banyak pengunjung yang masih mempercayai jika tempat keramat tersebut dapat mendatangkan berkah. Atmo Suwito menjelaskan tak sedikit warga sekitar maupun dari daerah lain yang datang untuk didoakan agar mendapatkan berkah,kemurahan rejeki maupun jodoh.